
Ini kesekian kalinya aku jatuh cinta pada orang yang tidak tepat.
Mungkin ini adalah alasan Allah agar aku dapatkan cinta dengan cara yang
tepat. Rinai hujan menari-menari mendengarkan keluh kesah yang ku
curahkan di blog ini. Seandai hujan bisa tertawa, mungkin itu adalah hal
yang bisa dilakukan untukku. Menertawakan kebodohanku. Iya ... terjalan
bebatuan yang tajam harus ku lalui dalam raihkan cinta yang suci.
Mencari cinta yang suci bagiku bagaikan mencari jarum dalam tumpukan
jerami. Bayangkan betapa sulitnya ! Aku pun mulai benar-benar
mengenalkan cinta semenjak bangku kuliah. Rasa itu mulai bersemi kepada
sosok yang begitu mencurahkan perhatiannya padaku. Anehnya, mereka yang
masuk dalam kehidupanku tanpa permisi adalah mereka yang namanya
rata-rata berinisial "H". Oh, My God ! apakah nantinya cinta ini akan
berlabuh pada hati yang berinisial H atau inisial lainnya ?? entahlah
hanya Sang pemilik jiwa raga ini lah yang tahu akan jawabannya. Mereka
datang silih berganti, datang kemudian pergi. Hanya dalam kurun waktu
kurang dari sebulan mereka tak lagi menghampiri hati. Ya Allah, ada apa
dengan diri ini ? padahal aku sudah berupaya semaksimal mungkin menjadi
pribadi yang berarti. Tapi di usia ku beranjak 24 tahun belum juga
menemukan cinta sejati. Melihat faktor umur yang kian meninggi, aku pun
berusaha tak putus asa dalam pencarian cinta. Walaupun beribu sakit
hati dan kekecewaan yang ku rasakan. Terakhir belakangan hubungan ku
dengan seseorang yang masih berinisial "H". Awal perkenalan, dia adalah
sosok seperti yang ku dambakan. Walaupun tidak setampan Kholidi Asadil
Alam, tapi tekad ku sudah bulat untuk menerima semua kekurangan dan
kelebihannya. Dengan baju koko yang ia kenakan, terpancar karisma yang
begitu dalam menuju kasat mataku. Minggu pertama minggu kedua, aura
ketulusannya masih bercahaya di sudut pandangku. Aku pun mengenalkan ia
pada keluarga. Sebuah anggukan dan gerak gerik yang menandakan keluarga
ku setuju pada pilihanku. Membuat aku dan dirinya, untuk berkomitmen
meresmikan hubungan di tahun depan. Namun siapa yang bisa menjamin,
laki-laki yang berperawakan soleh ternyata adalah sosok yang pada
penilaianku jauh dari pikir dan tindak dewasa. Minggu ketiga dan keempat
mulai sedikit menampakkan sikap buruknya. Gampang tersinggung dan sulit
memaafkan itu adalah yang harus ku hadapi. Hanya masalah sepele, telat
balas sms kini berujung pada masalah besar. Entah sampai kapan ku sabar
menyikapinya. Ku hanya belajar dari pengalaman sebelumnya, untuk menahan
kata putus keluar dari mulutku. Karena sudah berapa sering sebelumnya,
hubungan ku tak pernah bertahan sampai 1 bulan hanya karena
ketidaksepahaman. Aku pun berusaha untuk menahan emosi menyikapinya
santai, agar masalah tidak semakin berkobar. Namun sepertinya api
amarahnya sulit untuk dipadamkan. Tuhan, aku hanya ingin Kau hadirkan sosok
yang sudah pasti menjadi jodohku. Bukan mereka yang datang sekilas waktu
dan bukan untukku. Tuhan kirimkan aku sosok yang siap menghalalkan ku
dengan pernikahan, tanpa harus melewati fase pacaran. Tapi sulit rasanya
menemukan sosok seperti itu. Biasanya mereka yang datang dengan janji
ke pernikahan dengan permintaan pacaran sebagai periode saling mengenal
karakter masing-masing dan waktu untuk mengumpulkan pundi-pundi untuk
menggelarkan resepsi. Tapi semua itu hanya janji dan berakhir dengan
hubungan yang meninggalkan jejak keperihan hati.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar