Rabu, 24 Desember 2014

Cinta yang Datang Sekilas Waktu, Kemudian Berlalu.

Ini kesekian kalinya aku jatuh cinta pada orang yang tidak tepat. Mungkin ini adalah alasan Allah agar aku dapatkan cinta dengan cara yang tepat. Rinai hujan menari-menari mendengarkan keluh kesah yang ku curahkan di blog ini. Seandai hujan bisa tertawa, mungkin itu adalah hal yang bisa dilakukan untukku. Menertawakan kebodohanku. Iya ... terjalan bebatuan yang tajam harus ku lalui dalam raihkan cinta yang suci. Mencari cinta yang suci bagiku bagaikan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Bayangkan betapa sulitnya ! Aku pun mulai benar-benar mengenalkan cinta semenjak bangku kuliah. Rasa itu mulai bersemi kepada sosok yang begitu mencurahkan perhatiannya padaku. Anehnya, mereka yang masuk dalam kehidupanku tanpa permisi adalah mereka yang namanya rata-rata berinisial "H". Oh, My God ! apakah nantinya cinta ini akan berlabuh pada hati yang berinisial H atau inisial lainnya ?? entahlah hanya Sang pemilik jiwa raga ini lah yang tahu akan jawabannya. Mereka datang silih berganti, datang kemudian pergi. Hanya dalam kurun waktu kurang dari sebulan mereka tak lagi menghampiri hati. Ya Allah, ada apa dengan diri ini ? padahal aku sudah berupaya semaksimal mungkin menjadi pribadi yang berarti. Tapi di usia ku beranjak 24 tahun belum juga menemukan cinta sejati. Melihat faktor umur yang kian meninggi, aku pun berusaha tak putus asa dalam pencarian cinta. Walaupun beribu sakit hati dan kekecewaan yang ku rasakan. Terakhir belakangan hubungan ku dengan seseorang yang masih berinisial "H". Awal perkenalan, dia adalah sosok seperti yang ku dambakan. Walaupun tidak setampan Kholidi Asadil Alam, tapi tekad ku sudah bulat untuk menerima semua kekurangan dan kelebihannya. Dengan baju koko yang ia kenakan, terpancar karisma yang begitu dalam menuju kasat mataku. Minggu pertama minggu kedua, aura ketulusannya masih bercahaya di sudut pandangku. Aku pun mengenalkan ia pada keluarga. Sebuah anggukan dan gerak gerik yang menandakan keluarga ku setuju pada pilihanku. Membuat aku dan dirinya, untuk berkomitmen meresmikan hubungan di tahun depan. Namun siapa yang bisa menjamin, laki-laki yang berperawakan soleh ternyata adalah sosok yang pada penilaianku jauh dari pikir dan tindak dewasa. Minggu ketiga dan keempat mulai sedikit menampakkan sikap buruknya. Gampang tersinggung dan sulit memaafkan itu adalah yang harus ku hadapi. Hanya masalah sepele, telat balas sms kini berujung pada masalah besar. Entah sampai kapan ku sabar menyikapinya. Ku hanya belajar dari pengalaman sebelumnya, untuk menahan kata putus keluar dari mulutku. Karena sudah berapa sering sebelumnya, hubungan ku tak pernah bertahan sampai 1 bulan hanya karena ketidaksepahaman. Aku pun berusaha untuk menahan emosi menyikapinya santai, agar masalah tidak semakin berkobar. Namun sepertinya api amarahnya sulit untuk dipadamkan. Tuhan, aku hanya ingin Kau hadirkan sosok yang sudah pasti menjadi jodohku. Bukan mereka yang datang sekilas waktu dan bukan untukku. Tuhan kirimkan aku sosok yang siap menghalalkan ku dengan pernikahan, tanpa harus melewati fase pacaran. Tapi sulit rasanya menemukan sosok seperti itu. Biasanya mereka yang datang dengan janji ke pernikahan dengan permintaan pacaran sebagai periode saling mengenal karakter masing-masing dan waktu untuk mengumpulkan pundi-pundi untuk menggelarkan resepsi. Tapi semua itu hanya janji dan berakhir dengan hubungan yang meninggalkan jejak keperihan hati.

Selasa, 23 Desember 2014

Kealpaan Diri



Terkunci dalam ruang hati yang jauh dari suci
Terperangkap dalam getaran cinta makhluk Ilahi
Terpikat oleh bujuk rayu duniawi yang kian menepi
Tergolek lemas komitmen yang sejatinya alarm diri

Bibir yang kelu, tangan kaki yang kaku
Mata yang mulai sendu
Memberontak untuk tidak mengikuti nafsu
Meredupnya cahaya semakin membuat merindu Mu
Menyuci hati dari kerdilnya ilmu

Mempompa kesadaran yang sempat jeda
Memupuk keimanan dengan ketakwaan
Menyiraminya dengan air keistiqomahan

Sabtu, 20 Desember 2014

Cinta...
Kata-kata itu yang selalu buat ku kecewa. Kenapa harus ada rasa itu yang hadir  dalam manusia.  Kapan aku akan terbebas dari itu, Tuhan ?? Disaat aku sudah mulai menyukai sosok laki-laki dengan segala kekurangan dan kelebihannya, tapi semua hanya selintas waktu. Dan lagi-lagi aku mengalami hal itu. Aku bosan. Aku ingin bersandar. Ingin ku berlari ke tempat jauh, gurun pasir yang luas sehingga aku bisa berteriak bebas. Ku tahu semua itu tidak bisa menghilangkan rasa kecewa yang hinggap di dalam dada, tapi setidaknya sedikit meringankan luapan emosi perasaan yang membuncah. Ini untuk kesekian kalinya aku merasakan hal ini. Laki-laki yang ku pikir bisa mengerti aku dalam kondisi apapun dan berjanji untuk selalu mengerti. Kenyataannya dia juga tidak bisa mengerti. Lagi-lagi hanya alasan aku tidak  ada waktu untuk mereka, kemudian mereka meninggalkan ku begitu saja. Aku  lelah, Tuhan. Linangan air mata ini mulai deras mengalir dipipi. Aku sudah tak sanggup membendungnya. Tuhan, kalau mereka bukan jodohku. Jangan hadirkan dalam hidupku. Terlalu banyak pelajaran yang tak bernilai.