Banyak
orang mengatakan semakin bertambahnya umur, maka bertambahlah kedewasaannya.
Entahlah mungkin pernyataan itu bisa jadi benar. Tapi menurut prediksi dari
pandangan mata dan perasa hati yang ku alami tidak semua yang tua itu dewasa. Begitu
juga sebaliknya tidak semua yang dewasa itu tua. Setiap orang mempunyai
karakteristik dan pola pikir yang
beraneka ragam. Kedewasaan seseorang tak bisa kita ukur dari factor umur saja.
Coba perhatikan atau kalau mau silakan lakukan survey ! Mungkin umur yang
sebentar lagi diakhir tahun menginjak usia 24 tahun, membuat diri ini telah
merasakan sedikit banyak pahit manis kehidupan. Bertemu banyak orang dengan
cara pikir dan sikap yang beraneka. Dari anak-anak yang baru lahir ke dunia
sampai kakek nenek yang lansia. Alhamdulillah saya pernah menemuinya. Dari
mereka aku belajar banyak hal, terutama belajar memahami. Pernah ku temui
seorang anak yang masih menginjak bangku sekolah SMP. Tapi tampak kedewasaan
terpancar dari raut wajah dan perilakunya. Dari tata bicaranya, adab kepada
orang tua serta cara ia bersosialisasi kepada sesama. Sungguh luar biasa, yang
jarang ada pada anak diusianya. Tak pernah kata-kata kotor keluar dari
mulutnya. Hari-harinya pun selalu ada hal-hal yang bermanfaat yang ia lakukan.
Nampak ada ketulusan di bola matanya. Alangkah mulianya sifat seorang anak
remaja di tengah kehidupan yang penuh godaan untuk bergaya. Dilain hal pernah
juga ku jumpai sosok yang harusnya dewasa kalau dilihat dari usia, tapi tingkah
dan gaya pikirnya tidak jauh beda dengan anak remaja. Dengan gaya hidup yang
penuh hura-hura, hingga rela habiskan uang berjuta-juta. Egois dan tak memikirkan
orang lain mungkin itu adalah bagian pola hidupnya. Bersemayam dengan
kesenangan belaka, hingga lupa akan dunia ke dua. Iya, dewasa itu tak harus
tua. Tapi biasanya dewasa itu, kadang diperoleh seseorang dari pengalaman yang
dinobatkan sebagai guru yang paling berharga. Belum ada alat ukur yang bisa
menilai tingkat kedewasaan seseorang. Tetapi kedewasaan dapat dilihat dari ia
bangkit dalam keterpurukan dan cara ia mengambil keputusan. Mari beranjak
dewasa seiring berjalannya usia. :)
Kamis, 27 November 2014
Jumat, 21 November 2014
Mutiara Jilbab
Mutiara
Jilbab
Seperti
biasa Andin ditemani mamanya sebelum tidur “Ma, Andin boleh tanya sesuatu gak ?” tiba-tiba gadis manja yang baru
menginjak usia 12 tahun tersebut dengan polos mengajukan pertanyaan. “Tanya apa sayang?” Sambil mengusap rambut
Andin yang panjang sang mama balik tanya. “Itu lho ma, sekarang Andin lihat
banyak kakak cantik pakai jilbab kelihatan soleha gitu lho ma, Andin mau pakai
jilbab juga ya ma, biar kelihatan soleha dan anggun gitu. Boleh ya ma ?”.
“Anak
mama cantik, berjilbab itu bukan karena mau dipandang soleha atau kelihatan cantik
tapi berjilbablah hanya untuk mendapat ridho Allah. Dengan mengenakan jilbab
itu artinya kita berusaha menjaga diri dari hal-hal yang tak diinginkan. Bukan
karena cantik atau hanya ingin dipandang soleha nak, Mama senang kalau Andin
sudah pengen belajar jilbab.’’ Jawab sang mama mengizinkan putri cantiknya
mengenakan jilbab. “Asiiyyk….Mama ngizinin Andin pake jilbab. Owh, begitu ya
ma, pakai jilbab itu gak boleh salah niat. Ya deh, Andin mau pakai jilbab
karena Allah. Urusan cantik mah, memang Andin sudah cantik, Iya kan Ma ? “ ujar
Andin dengan sedikit guyonannya. “Iya Andin cantik, apalagi dikenakan jilbab.”
Jawab sang mama dengan senyum meyakinkan. “Udah nak, sekarang waktunya tidur
udah pukul 09.00 malam, nanti kesiangan ke sekolahnya”.
“Oke
Mama sayang, berarti besok mama beliin Andin jilbab ya, Ma ! “ pinta Andin
dengan sedikit manja. “Iya sayang, Mama senang lihat semangat kamu pakai
jilbab, sekarang Andin tidur jangan lupa baca doa ya, Nak !” jawab Mama sambil
mencium kening Andin kemudian pergi.
Keeseokan
harinya, Andin dan sang Ayah sudah menunggu di meja makan. Sementara Mama lagi
sibuk menyiapkan sarapan pagi. Sembari menunggu sarapan, Andin memulai
percakapan.
“Pa,
ada kabar gembira buat Papa, Ayooo Papa tebak kabar apa ? “ Tanya Andin
membiarkan Papanya penasaran sejenak.
“Aduh
anak Papa, pagi – pagi udah bikin Papa penasaran aja, coba ya Papa tebak, Pasti
kemarin Andin dapat nilai bagus. Ayoo benarkan tebakan Papa ?”
“Iiih,
Papa bukan dong.”
“Terus
apa dong sayang?”
“Hari
ini Andin sama Mama mau beliin jilbab, Pa.’’
“Beliin
jilbab buat siapa nak?” Tanya Papa penasaran.
“Buat
Andin dong, pokoknya Andin harus pakai jilbab ke sekolah besok pagi.’’
“Alhamdulillah,
anak Papa sekarang sudah mau pakai jilbab. Papa senang dengarnya nak.’’
“Iya,pa
dari semalam Andin bujuk Mama buat beli jilbab.” Sambil meletakkan makanan di
meja, Mama menyambung obrolan Andin dan Papa.
“Ya
udah, nanti dibeliin aja Ma.” Jawab Papa sambil tersenyum.
Sepulang
dari sekolah, Andin menagih janjinya pada sang bunda.
“Ma,
katanya mau nemenin Andin beliin jilbab ? kok Mama asyik-asyiknya baca buku.
Buruan dong Ma, entar tokonya keburu tutup ! “
“Iya
sayang, ini Mama baca buku mengenai jilbab. Nanti boleh kamu bacakan bukunya.”
“Oke
.. ayo Ma, lets go kita berburu jilbab dan baju muslim !”
Mama
hanya mengangguk dan tersenyum melihat putrinya dengan antusias gak sabaran
pakai jilbab.
Butik
XYZ menjadi toko tujuan mama dan Andin. Setiba di toko, pelayan toko
menyambutnya dengan mengucapkan salam.
“Assalamu’alaikum,
selamat datang Bu di butik XYZ ! Kami menjual berbagai baju muslim dan
jilbab-jilbab dengan berbagai motif. Silkan Ibu mau lihat-lihat dulu !”
Jilbab
pink dengan motif bunga-bunga sepertinya sasaran pertama Andin.
“Ma,
yang ini cantik kali ya ! dengan motif bunga-bunga. Aku suka Ma.”
“iya
sayang, pilih yang kamu suka asalkan jilbab dan bajunya tidak membentuk lekuk
tubuhmu.” ucap mama seraya melihat gamis yang ada di depannya.
Pukul
14.45 mereka sudah tiba di rumah. Andin nampak bahagia. Seutas senyuman tanpa
hentinya becengkerama seakan-akan tak diizinkannya kekecewaan menyapa. Gadis
manja yang sedang menginjak bangku kelas 1 SMP membiarkan kelelahan untuk
berada di tubuhnya. Sepertinya kelelahan tersebut terlunaskan oleh kebahagiaan
yang ia rasakan. Tak diberi waktu sedikitpun tubuhnya untuk merasakan empuknya
kursi di ruang tamu. Kamar yang dipenuhi
dengan warna pink seolah-olah menjadi panggung fashion show. Di depan cermin
yang lebih tinggi sedikit darinya menjadi saksi sekaligus juri yang siap
mengkritik gaya berjilbabnya. Semua baju dan jilbab yang dibeli, ia coba.
Penasaran akan wajah solehanya.
“Udah
nak, kamu cantik kok pakai jilbab. Azan sholat ashar telah tiba. Ayoo kita
sholat dulu nak !” suara mama mengagetkan Andin yang lagi senyum-senyum di
depan kaca.
“Iya,
Mama tunggu aja dulu di ruang sholat. Bentar lagi Andin menyusul.”
Mama
hanya menggeleng-gelengkan kepala lihat tingkah laku putrinya, kemudian pergi
mengambil wudhu.
Hari
ini Andin pertama kali menggunakan seragam sekolah disempurnakan dengan jilbab.
Tentunya seragam sekolah yang panjang.
“Gimana
Pa, penampilan Andin hari ini ?”
“Alhamdulillah
cantik nak, tetap istiqomah ya sayang. Semoga dengan jilbab juga mempercantik
hatimu, nak !”
“Aamiin….Yee..emang
sekarang hati Andin gak cantik ya Pa ? “ tanya Andin dengan cemberut manjanya.
“Cantik
sayang, maksud Papa biar tambah cantik gitu”.
Sedikit
memuji, jurus jitu Papa mampu menambah ukiran senyum Andin pagi itu.
Mentari
pagi dengan cahayanya mulai menyapa, burung-burung beterbangan dengan kicauan
yang merdu seolah-olah siap menyambut penampilan baru seorang gadis manja
bernama Andina Reqazita.
Rok
biru panjang yang dipadankan dengan baju serta kerudung putih yang dikenakan
bros bunga biru sepertinya menjadi pemandangan banyak orang di pagi itu.
Lirikan mata banyak tertuju pada gadis cantik tersebut. Mata berbinar –binar
juga tak henti-hentinya memperhatikan, tak mau dikalahkan mata-mata sinis siap
melemparkan kebencian.
“Andin,
ini benar kamu ? “ Tanya Lifa. Seorang sahabat dekat Andin, berkaca mata dengan
kerudung berjuntai hingga ke dada.
“Iya
Andin dong, siapa lagi” Balas Andin.
“Alhamdulillah
sekarang kamu sudah berjilbab, makin cantik aja. Tetap istiqomah ya sob !”
“Aamiin..insya
allah Lif. Nanti ajari dan bombing aku cara pakai jilbab yang benar ya?”
“Kalau
untuk itu, siap mah buat Andina sahabat tercinta” ucap Lifa yang tak
henti-hentinya memperhatikan penampilan baru Andin.
Mata-mata
sinis siap melontarkan kata-kata pedasnya.
“Halah…paling
Andin berjilbab hanya untuk cari sensasi aja. Besok-besok juga buka jilbab dan pakai
baju pendek lagi.” Sahut seorang gadis yang sedang berkumpul dengan gengnya.
Bel
masuk kelas berbunyi, menghentikan percakapan singkat mereka.
Sore
itu, sepiring kue dan secangkir jus melon siap menjadi teman santapan Andin. Di
kursi teras Andin duduk sambil menikmati angin yang bersemilir sambil
memperhatikan hilir mudik orang berlalu lalang dan sekali-kali menyapa.
“Ma,
pinjam buku yang mama baca kemarin dong ! “ tanya Andin sambil masuk lagi ke
dalam rumah.
“Andin
ambil aja di meja kamar mama, judul bukunya “Juntaian Jilbab Beribu Makna”.
Mama lagi masak ni. “ Sahut mama dari balik dapur.
Sesegara
mungkin Andin mengambil buku tersebut dan menemukannya. Di lahapnya buku yang
kadang membuat dahinya berkerut, tak jarang juga muncul senyum mekar tiba-tiba
bahkan buku tersebut membuatnya berlinang air mata. Tak ada satu pun halaman
buku yang belum terbaca. Semua dikunyahnya hingga benar-benar merasa.
Semenjak
Andin membaca buku tersebut, Andin makin sering berburu buku tentang muslimah.
Kini hobinya berpindah profesi. Dari tukang jahilin ibu berpindah menjadi Miss
kutu buku.
Semakin
hari Andin banyak menunjukkan perubahan. Tentunya perubahan untuk menjadi sosok
muslimah. Setelah beberapa tahun Andin
berteman dengan jilbabnya, banyak proses yang ia lalui dengan kerikil hidup
yang begitu tajam datang dan siap menggoyah iman. Kadang hampir ia berputus
asa. Namun kedua orang tuanya sebagai penyemangat bak cahaya yang menerangi
lingkaran hati sang putri mereka. Sehingga tak ada kata menyerah bagi Andin
untuk mendapatkan ridhoNya.
Kini
Andina Reqazita bukan lagi gadis manja. Sekarang ia tumbuh menjadi pribadi yang
dewasa. Nama Andin pun mengalami perubahan, ada gelar dibekang namanya. Andina
Reqazita, S.E. Gelar itu ia dapatkan setelah menimba ilmu di salah satu universitas
di Jakarta.
Usianya
kini beranjak 24 tahun. PT. Sinar Cahaya menjadi tempat ia mengabdi dan menerapkan
ilmu yang selama ini dia dapatkan di bangku pendidikan.
“Andin,
kamu jangan terlalu sibuk dengan pekerjaan dan karirmu ! masih ada masa depan
yang lain sedang menunggumu, nak !” ucap Mama sambil menyiapkan makan malam.
“Maksud
Mama ? “ Tanya Andin pura-pura tidak mengerti.
“Maksud
Mama, kamu kapan mikirin jodohmu ? udah seberapa banyak laki-laki yang datang
ingin melamarmu nak, tapi tak ada satupun yang kamu terima”. Harus berapa
alasan lagi nak, untuk kami jelaskan kepada mereka ?” jawab ayah sambil
menyerumuti teh yang dihidangkan ibu.
“Ma..Pa…
bukan Andin gak mikirin jodoh. Tapi harus gimana lagi Allah belum berikan
petunjuk untukku. “ kata Andin meyakin kedua orangtuanya.
Sebenarnya
ada satu sosok laki-laki yang mengganggu perasaan Andin. Laki-laki itu adalah kakak
kelas Andin waktu SMA. Fian Alfaruq. Ia adalah sosok laki-laki yang pernah
menyatakan perasaannya kepada Andin. Namun dengan keyakinan yang dipegang,
Andin menolaknya sebagai pacar. Walaupun ia mempunyai perasaan yang sama, tapi
tak membuat wanita cantik ini untuk menerima. Dijelaskannya kepada Fian, kalau
pacaran bukanlah hal yang baik untuk menggapai maghligai rumah tangga.
Sepertinya Fian memahami penolakan tersebut dengan penjelasan dan alasan yang
logis menurutnya. Biarkan perasaan ini tersimpan hingga sampai waktunya.
Setelah lulus SMA, kini Fian tak tahu lagi keberadaannya. Namun Andin masih
menyimpan hal yang sama seperti waktu di Bangku SMA.
“Nak,
besok malam kamu ada acara gak ? “
Ucapan
itu membuyarkan lamunannya. “Iya ada apa ma ? besok malam Andin di rumah saja,
Ma”. Jawab Andin sambil merapikan jilbabnya yang kena lambaian angin diteras
rumah.
“Kebetulan
besok malam, ada Manajer baru Papa mau datang bersama keluarganya ke rumah. Ada
acara makan malam gitu.”
“Kedatangan
Manajer papa dalam rangka apa Ma ?” tanya Andin penasaran.
“Manajer
baru papa minta dicarikan jodoh, dan Papamu bermaksud mengenalkannya pada mu,
nak. Karena papa yakin dia adalah sosok yang baik, ceketan dan juga soleh.”
Andin
terdiam. “Harus sampai kapan rasa ini ku simpan untukmu, fian ?” Andin
membatin.
Tepat
malam itu, Andin baru saja selesai menunaikan sholat isya. Tak lupa ia selipkan
doa diberikan petunjuk mengenai jodohnya. Tak lama kemudian ia bergegas ke
dapur membantu sang mama menyiapkan makan malam. Setelah semuanya telah tersaji
di meja makan, Andin kembali lagi masuk ke kamar.
“Assalamu’alaikum..”
Suara
itu terdengar jelas. “Wa’alaikumussalam” Papa dan mama Andin serentak menjawab
dan segera menyambutnya.
Seorang
pria tampan ditemani seorang Ibu berkacamata dan seorang Bapak yang mengenakan
kemeja.
“Nak
mari ke sini, kita makan bareng keluarga teman Papa !” panggil mama sembari
berjalan menuju kamar Andin.
“Iya
ma.”sahut Andin dari dalam kamar.
Andin
berjalan penuh kebimbangan menuju meja makan. Berusaha menepis kegundahan yang
menyelimuti hatinya.
Malam
ini iya tampil dengan mempesona dengan jilbab pink menjuntai hingga ke dada.
“Nak,
perkenalkan ini Manajer baru Papa. Bapak Fian Al Faruq beserta keluarganya ”
ujar sang Papa pada Andin.
Andin
bungkam seribu bahasa mendengar papanya menyebutkan nama tersebut.
“Andina
Reqazita ?” Tanya fian mencairkan kebungkaman Andin.
‘‘Iya,
pak Fian. Namanya Andina Reqazita. Apa
bapak kenal putrid saya ? “ Tanya Papa Andin kebingungan.
“Iya
pak, Andin adalah adik kelas saya di bangku SMA dan saya pernah menyatakan suka
padanya. Namun ia menolak dengan memberikan pemahaman kalau pacaran bukan cara
yang baik untuk menyatukan satu hati.” Jelas Fian yang membuat seluruh isi
ruangan tercengang mendengarnya.
“Jadi
gimana Andin, niat papa mau mengenalkan pak Fian padamu, Nak. Papa gak tahu
kalau kalian sudah saling kenal sebelumnya.” Kata papa sembari memandang putri
manisnya yang sedang tertunduk malu.
“Iya
Andin, alhamdulillah kita dipertemukan lagi. Gimana din, apa kamu bersedia
menjalin mahligai rumah tangga bersama ku ?” Tanya Fian penuh keyakinan.
“Bismillah,
sebenarnya penolakan Andin pada beberapa laki-laki yang datang selama ini
adalah atas dasar Fian Alfaruq, ma..pa. Nama ini juga yang selalu hadir dalam
setiap mimpiku. Untuk itu, Andin yakin suatu saat nanti nama tersebut juga yang
akan meminang Andin. Maha suci Allah, setelah beberapa tahun penantian, kami
dipertemukan lagi. Insya allah, Andin siap dinikahi Fian untuk bersama-sama menggapai
ridhoNya.” Jawab Andin dengan tetesan air mata yang tak bisa dibendungkan lagi.
Semua
tertegun dan tersenyum mekar seraya mengucap hamdalah mendengar jawaban dari
Andin, gadis manja yang kini berhijrah menjadi wanita berkharisma.
Tanpa
menunggu lama dua minggu kemudian waktu yang ditetapkan sebagai hari pernikahan
mereka.
***Subhanallah,
Dengan penantian yang bertemankan kesabaran, Andin berhasil menjaga hatinya
sampai batas waktu. Kenyataan yang ia dapatkan sesuai keyakinannya. Jodoh yang
baik tidak akan didapatkan dengan cara yang salah. Di balik keistiqomahannya
untuk mempertahankan jilbab dan keyakinannya,
terdapat scenario Allah yang begitu Indah.***
Senin, 17 November 2014
Buatlah hatiku jauh dari siapan pun yang bukan untukku, Tuhan.
Ku yakin Kau telah menyimpan yang menurut Mu baik untuk menjadi teman
sepanjang usiaku berjalan, selama jantung belum berhenti menyelesaikan
pekerjaan, selagi setiap anggota tubuh ini masih dengan keikhlasan siap
membantuku untuk menghamba pada Mu. Suatu saat nanti diwaktu yang tepat,
ku yakin Kau akan menghadiahkannya untukku ku, hadiah yang selama
ini selalu terselip dalam doa, hadiah yang selama ini telah terbungkus
indah oleh Mu. Dia yang halal untukku yang siap menjadi sahabat setia,
pengapus duka lara, berteman hingga surga. Tak jarang selama ini Kau
hadirkan beberapa pengisi kekosongan hati. Iya, ku sadar semua yang
datang adalah salah satu bentuk ujian Mu. Sejauh mana ku tetap istiqomah
terhadap komitmenku. Tapi lagi-lagi ku kalah di medan pertempuran iman.
Kelalaian dan kealpaan diri akan kehadiran Mu, kian ku rasa. Hingga Kau
buat hati ini untuk merindukan Mu. Kau tunjukkan keburukan pada sesuatu
yang menurutku baik. Isak tangis dan penyesalan diri menjadi awal untuk
menuju pintu gerbang Mu. Memperbaiki akhlak, perilaku serta kepribadian
dalam waktu yang masih Kau izinkan mungkin itu adalah yang harusnya ku
lakukan. Berharap keistiqomahan bukan lagi sebuah ucapan, berharap
keistiqomahan mampu melewati dalamnya jurang kenestafaan yang siap
menjeratku di kala senjata ketakwaan jauh dari pegangan. Aku pun tahu
beribu harapan yang ku sematkan akan bernilai nol dan takkan berarti
apa-apa tanpa tindakan yang mengarahkan ku untuk mengikat erat tali
keimanan dan ketaqwaan pada Mu, yang tak lain adalah sebagai penolong
dan penyelamat ketika jurang kehidupan di depan mata. Kini ku tak ingin
masa lalu, masa jahiliyahku menjadi penghambat perjalananku menuju
ridhoMu. Bak spion yang tak mungkin setiap saat bisa ku lihat. Cukuplah
di saat-saat tertentu yang memperbolehkan ku memperlihat kaca spion.
Hendak berbelok, tentunya ketika berada di persimpangan jalan. Begitu
juga dengan masa laluku, hanya bisa ku kenang sesaat sebagai jawaban
atas pembedaan kebaikan dan keburukan. Kini kesendirianku bukanlah
sebagai alasan atas ketidakmampuanku untuk memperbaiki iman, bukan juga
hanyalah alasan kesendirian adalah waktu untukku dengan leluasa
menikmati dunia yang sesaat. Bukan…bukan itu yang diharapkan. Justru
kesendirianku adalah waktu yang diberikan Allah untuk belajar banyak
hal, sebelum datangnya ia yang hahal dan benar-benar untukku. Bukan
mereka yang datang silih berganti tapi pada akhirnya bukan milikku. Ku
yakin rencanaMu lebih indah dari rencanaku. Allah, Kau sebaik-baiknya
tempat bersandar.
Jumat, 14 November 2014
WeLcoMe To My BLoG " Salam Ukhuwah": Aku Merindumu, Masa kecil ku
WeLcoMe To My BLoG " Salam Ukhuwah": Aku Merindumu, Masa kecil ku: Baru kemarin rasanya, kegirangan menyelimuti hari-hariku. Senyum tipis yang terpancar, seolah-olah itu adalah dunia ku. Di sebuah pedesaan k...
Rabu, 12 November 2014
Aku Merindumu, Masa kecil ku
Baru kemarin rasanya, kegirangan menyelimuti hari-hariku. Senyum tipis yang terpancar, seolah-olah itu adalah dunia ku. Di sebuah pedesaan kecil, tempat dimana aku menghabiskan masa kanak-kanak ku hingga remaja bahkan sampai saat ini. Masih terngiang-ngiang di telingaku akan panggilan itu " Piya pulang, sekarang la nek malem, lah main tu !" dari teras rumah sosok wanita separuh baya itu memanggilku dengan logat bahasa daerah desa kami . Sosok itu tak lain adalah Ibu ku, cahaya kehidupan yang selalu menerangiku tatkala kegelapan hidup mulai menghampiri. Sambil bermain lompat tali, ku balas seruan itu dengan terengah-engah "aok mak, suat agik ". Ibu pun tak menghiraukan lagi dan kembali masuk ke dalam rumah.
Masa kecilku, mungkin adalah hal terindah dalam hidup ini. Dengan rutinitas yang tak jauh beda setiap harinya. Pagi-pagi hingga siang adalah jadwal ku ke sekolah, siangnya istirahat sebentar dan setelah itu pergi mengaji TK/TPA, sorenya sepulang dari mengaji masih ada sedikit waktu untuk bermain bersama anak-anak kecil lainnya. Malamnya, tak ada hal ada yang tidak bermanfaat kami gunakan. Ba'da maqrib aku dan anak-anak separuh baya ku tetap melakukan hal posifit yaitu mengaji di sebuah pesantren di desa. Sepulang dari pengajian pun tak ada waktu untuk berkeluyuran, karena pulang mengaji adalah waktu untuk belajar. Ketika belajar pun aku tetap mendapat pengawasan orang tua, menanyakan kepada mereka pelajaran yang belum aku pahami. Setelah belajar aku pun bebas, bisa nonton atau pun langsung tidur asalkan tidak sampai larut malam. Begitulah rutininitas kecil ku tiap hari. Tidak ada beban-beban berat yang bersemayam dipikiran ku. Mungkin masa itu, boleh dikatakan beban terberat ku adalah mengerjakan tugas-tugas sekolah atau menghafal beberapa ayat-ayat Al-qur'an maupun doa-doa. Masih teringat waktu itu, guru ngaji meminta kami untuk menghafal juz Amma, seandainya ada 3 ayat yang tidak terhafal maka siap-siap la telapak tangan kami untuk "dilibes" (Red, dipukul) dengan kayu 3 kali juga. Jadi semangat menghafal pun makin meningkat. Cara mereka (red, guru) seperti itu menurutku adalah cara yang tepat, dengan begitu kami pun merasa takut akan mendapat hukuman tersebut, jadi kami pun harus belajar giat dan sungguh-sungguh. Hukuman yang diberikan juga tidak begitu sakit, karena tidak meninggalkan bekas, hanya sakit sesaat. Aku rindu masa-masa itu, masa kecilku. Dimana aku dengan teman-teman yang lainnya bisa bebas tanpa berat yang harus dipikul. Bermain lompat tali, sembunyi gong, bermain kasti, kelereng dan beberapa permainan lainnya yang pernah ku rasakan di waktu itu. Berbeda dengan sekarang ketika beranjak menjadi wanita dewasa, sejumlah tuntutan yang harus ku kejar.
Masa kecilku, aku merindu mu :)
Masa kecilku, mungkin adalah hal terindah dalam hidup ini. Dengan rutinitas yang tak jauh beda setiap harinya. Pagi-pagi hingga siang adalah jadwal ku ke sekolah, siangnya istirahat sebentar dan setelah itu pergi mengaji TK/TPA, sorenya sepulang dari mengaji masih ada sedikit waktu untuk bermain bersama anak-anak kecil lainnya. Malamnya, tak ada hal ada yang tidak bermanfaat kami gunakan. Ba'da maqrib aku dan anak-anak separuh baya ku tetap melakukan hal posifit yaitu mengaji di sebuah pesantren di desa. Sepulang dari pengajian pun tak ada waktu untuk berkeluyuran, karena pulang mengaji adalah waktu untuk belajar. Ketika belajar pun aku tetap mendapat pengawasan orang tua, menanyakan kepada mereka pelajaran yang belum aku pahami. Setelah belajar aku pun bebas, bisa nonton atau pun langsung tidur asalkan tidak sampai larut malam. Begitulah rutininitas kecil ku tiap hari. Tidak ada beban-beban berat yang bersemayam dipikiran ku. Mungkin masa itu, boleh dikatakan beban terberat ku adalah mengerjakan tugas-tugas sekolah atau menghafal beberapa ayat-ayat Al-qur'an maupun doa-doa. Masih teringat waktu itu, guru ngaji meminta kami untuk menghafal juz Amma, seandainya ada 3 ayat yang tidak terhafal maka siap-siap la telapak tangan kami untuk "dilibes" (Red, dipukul) dengan kayu 3 kali juga. Jadi semangat menghafal pun makin meningkat. Cara mereka (red, guru) seperti itu menurutku adalah cara yang tepat, dengan begitu kami pun merasa takut akan mendapat hukuman tersebut, jadi kami pun harus belajar giat dan sungguh-sungguh. Hukuman yang diberikan juga tidak begitu sakit, karena tidak meninggalkan bekas, hanya sakit sesaat. Aku rindu masa-masa itu, masa kecilku. Dimana aku dengan teman-teman yang lainnya bisa bebas tanpa berat yang harus dipikul. Bermain lompat tali, sembunyi gong, bermain kasti, kelereng dan beberapa permainan lainnya yang pernah ku rasakan di waktu itu. Berbeda dengan sekarang ketika beranjak menjadi wanita dewasa, sejumlah tuntutan yang harus ku kejar.
Masa kecilku, aku merindu mu :)
Senin, 10 November 2014
Pahlawan Bangsa
Ragamu memang tak lagi di depan mata
Bambu runcingmu pupus ditelan masa
Penjajah asing tak lagi berani bertahta
Namun semangat mu tetap terpatri di bangsa tercinta
10 November sekarang tak lagi sama
Seperti kau yang dulu rela mati-matian untuk Negara
Lumuran darah yang mengalir dimana-mana
Tapi kau abaikam itu semua, hanya untuk kemerdekaan bangsa
Berbeda…
Berbeda dengan kami, pemuda pertengahan masa
Tugas kami tak lagi berjuang antara bambu runcing dan senjata
Tapi lebih pada mempertahankan kemerdekaan hasil jasamu yang sangat berharga
Menjadikan bangsa lebih bermatabat di ranah dunia
Dengan pendidikan dan hasil karya berjuta warna
Selamat Hari Pahlawan
Bambu runcingmu pupus ditelan masa
Penjajah asing tak lagi berani bertahta
Namun semangat mu tetap terpatri di bangsa tercinta
10 November sekarang tak lagi sama
Seperti kau yang dulu rela mati-matian untuk Negara
Lumuran darah yang mengalir dimana-mana
Tapi kau abaikam itu semua, hanya untuk kemerdekaan bangsa
Berbeda…
Berbeda dengan kami, pemuda pertengahan masa
Tugas kami tak lagi berjuang antara bambu runcing dan senjata
Tapi lebih pada mempertahankan kemerdekaan hasil jasamu yang sangat berharga
Menjadikan bangsa lebih bermatabat di ranah dunia
Dengan pendidikan dan hasil karya berjuta warna
Selamat Hari Pahlawan
Langganan:
Postingan (Atom)


.jpg)
