Selasa, 06 Mei 2014

Cinta Gagal Bersemi


Cinta Gagal Bersemi
Seiring berjalannya waktu, aku pun bisa melupakan semua masa laluku yang penuh goresan luka. Masa-masa di bangku perkuliahan kini telah usai. Banyak kenangan manis dan pahit yang kurasakan. Kehidupan ku tetap dan terus berjalan. Mengingat kembali masa laluku sungguh buat ku terpaku dan diam merenung dalam ke dalam jiwa.  Masa jahiliyah, iya mungkin kata tersebut bisa disandangkan di waktu itu. Masa yang penuh kubangan dosa. Semester satu perkuliahan, saya belum menggunakan hijab. Semester kedua  perkuliahan alhamdulillah sudah berangsur menggunakan jilbab tetapi si virus merah jambu tetap masih hinggap di hati. Hingga sulit bagi ku untuk menepisnya dan terbuai dalam cinta. Awal permulaan menggunakan jilbab, iman ku mulai sedikit naik dan berusaha tetap istiqomah dalam memperbaiki diri. Tapi ujian kecil menghampiri, seseorang yang ku kenal melalui jejaring sosial facebook masuk dalam kehidupanku. Selidik demi selidik, ternyata dia adalah kakak kelasku di kampus.
Mulai semenjak itu kami berkenalan dan mulai menjalin hubungan yang dekat. Dia menyatakan perasaannya, entah apa yang membuat hati ini langsung bisa membuka pintu hati untuknya. Begitulah nafsu duniawi merasuki hati. Iman pun kembali surut. Dengan alasan cinta, kami mulai merancang kehidupan masa depan. Cara yang salah untuk mendapatkan pasangan hidup ini, Allah tunjukkan perilakunya yang tak pantas menjadi imam dalam rumah tangga. Hanya perkenalan ia dengan seorang wanita, hubungan kami pun kandas di tengah jalan. Dan semenjak itu, aku pun tak ingin lagi mengenalinya. Sibuk dengan dunia ku, beberapa kali pernah menjalin pacaran dengan sosok pria yang ku pikir akan menjadi sosok imam yang baik dalam rumah tangga. Namun hati kembali tergores luka. Ya sudah lah, aku pun tak ingin lagi mengenal cinta. Perkuliahan ku pun selesai tepat waktu. Ternyata sosok yang pernah meninggalkan sosok luka di hati ini, wisuda bersamaan dengan ku. Setelah hampir 2 tahun kami loss contact, luka di hati kini kembali membaik walaupun masih meninggalkan luka. Kami masih bertegur sapa walaupun cuma sekedar say hallo dan saling menanyakan kabar. Walaupun tidak seakrab yang dulu, sesekali dia sms menanyakan kabar. Tapi itu pun dalam intensitas yang relatif jarang.
Suatu pagi Hp ku berdering, ku lihat nomor tanpa nama menelpon ku. Iya ku tahu dengan nomor itu. Karena sambil mencuci piring, jadi Hpnya ku matikan. Tak lama kemudian berbunyi lagi. Ku angkat teleponnya dengan sedikit terpaksa, dari percakapan yang agak terburu-buru, laki-laki yang pernah membuat ku jatuh cinta tersebut mengajak ku untuk reunian dengan teman kuliahnya dulu. Mendesak dan memasakku untuk ikut, tetapi aku tetap dengan jawabanku tak mau ikut. Tapi ajakannya yang begitu memohon membuat ku terpaksa meminta izin ke kakakku. Dan aku pun dikasih izin dengannya. Dengan nada gembira, ia akan menjemputku segera. Setelah pamitan dan minta izin dengan keluargaku, kami pun segera menyusul teman-temannya untuk berlibur ke air terjun “Sadap”. Sepanjang perjalanan kami tak banyak cerita, masih kaku setelah beberapa tahun tak lagi bersama.  Dengan guyonannya yang masih seperti dulu, kini mencairkan suasana. Kami pun kembali akrab bak masih pacaran dulu. Ntah apa yang membuat ku merasa tidak nyaman, Iya..ku merasa bersalah pada Allah dan menyesal karena tidak bisa beristiqomah untuk menjaga jarak, bergoncengan dengan yang bukan mahromnya. Allah ampuni dosa-dosaku. Ku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan terus berusaha menjemput hidayah Mu.