Cinta
Gagal Bersemi
Seiring berjalannya waktu, aku pun bisa melupakan semua masa
laluku yang penuh goresan luka. Masa-masa di bangku perkuliahan kini telah
usai. Banyak kenangan manis dan pahit yang kurasakan. Kehidupan ku tetap dan
terus berjalan. Mengingat kembali masa laluku sungguh buat ku terpaku dan diam
merenung dalam ke dalam jiwa. Masa
jahiliyah, iya mungkin kata tersebut bisa disandangkan di waktu itu. Masa yang
penuh kubangan dosa. Semester satu perkuliahan, saya belum menggunakan hijab.
Semester kedua perkuliahan alhamdulillah
sudah berangsur menggunakan jilbab tetapi si virus merah jambu tetap masih
hinggap di hati. Hingga sulit bagi ku untuk menepisnya dan terbuai dalam cinta.
Awal permulaan menggunakan jilbab, iman ku mulai sedikit naik dan berusaha
tetap istiqomah dalam memperbaiki diri. Tapi ujian kecil menghampiri, seseorang
yang ku kenal melalui jejaring sosial facebook masuk dalam kehidupanku. Selidik
demi selidik, ternyata dia adalah kakak kelasku di kampus.
Mulai semenjak itu kami berkenalan dan mulai menjalin hubungan
yang dekat. Dia menyatakan perasaannya, entah apa yang membuat hati ini
langsung bisa membuka pintu hati untuknya. Begitulah nafsu duniawi merasuki
hati. Iman pun kembali surut. Dengan alasan cinta, kami mulai merancang
kehidupan masa depan. Cara yang salah untuk mendapatkan pasangan hidup ini,
Allah tunjukkan perilakunya yang tak pantas menjadi imam dalam rumah tangga. Hanya
perkenalan ia dengan seorang wanita, hubungan kami pun kandas di tengah jalan.
Dan semenjak itu, aku pun tak ingin lagi mengenalinya. Sibuk dengan dunia ku,
beberapa kali pernah menjalin pacaran dengan sosok pria yang ku pikir akan
menjadi sosok imam yang baik dalam rumah tangga. Namun hati kembali tergores
luka. Ya sudah lah, aku pun tak ingin lagi mengenal cinta. Perkuliahan ku pun
selesai tepat waktu. Ternyata sosok yang pernah meninggalkan sosok luka di hati
ini, wisuda bersamaan dengan ku. Setelah hampir 2 tahun kami loss contact, luka di hati kini kembali
membaik walaupun masih meninggalkan luka. Kami masih bertegur sapa walaupun cuma
sekedar say hallo dan saling
menanyakan kabar. Walaupun tidak seakrab yang dulu, sesekali dia sms menanyakan
kabar. Tapi itu pun dalam intensitas yang relatif jarang.
Suatu pagi Hp ku berdering, ku lihat nomor tanpa nama menelpon ku.
Iya ku tahu dengan nomor itu. Karena sambil mencuci piring, jadi Hpnya ku
matikan. Tak lama kemudian berbunyi lagi. Ku angkat teleponnya dengan sedikit
terpaksa, dari percakapan yang agak terburu-buru, laki-laki yang pernah membuat
ku jatuh cinta tersebut mengajak ku untuk reunian dengan teman kuliahnya dulu. Mendesak
dan memasakku untuk ikut, tetapi aku tetap dengan jawabanku tak mau ikut. Tapi
ajakannya yang begitu memohon membuat ku terpaksa meminta izin ke kakakku. Dan
aku pun dikasih izin dengannya. Dengan nada gembira, ia akan menjemputku
segera. Setelah pamitan dan minta izin dengan keluargaku, kami pun segera
menyusul teman-temannya untuk berlibur ke air terjun “Sadap”. Sepanjang perjalanan kami tak banyak cerita, masih kaku
setelah beberapa tahun tak lagi bersama.
Dengan guyonannya yang masih seperti dulu, kini mencairkan suasana. Kami
pun kembali akrab bak masih pacaran dulu. Ntah apa yang membuat ku merasa tidak
nyaman, Iya..ku merasa bersalah pada Allah dan menyesal karena tidak bisa
beristiqomah untuk menjaga jarak, bergoncengan dengan yang bukan mahromnya.
Allah ampuni dosa-dosaku. Ku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan
terus berusaha menjemput hidayah Mu.