Selasa, 17 Juni 2014
PILIHAN
Setiap orang mungkin sering dihadapkan dengan sebuah pilihan, begitu juga saya. Sebuah pilihan yang harus diambil dengan resiko yang berbeda -beda. Tak selamanya doa kita dikabulkan Allah dengan segera, mungkin makan waktu yang cukup lama bahkan puluhan tahun. Namun kita disuruh menunggu dengan kesabaran yang super ekstra sembari mengevaluasi doa dan tindakan kita. Begitulah cara Allah menguji kesabaran sebelum Dia kabulkan permintaan kita. Seperti yang saya alami sendiri. Setelah menunggu beberapa bulan disertai doa dan ikhtiar untuk mendapatkan pekerjaan, kini Allah kabulkan apa yang ku inginkan bahkan membuat ku harus memilih. Rasa syukurpun tak hentinya ku panjatkan kepada Sang Robbi.. Thanks To Allah.
Selasa, 06 Mei 2014
Cinta Gagal Bersemi
Cinta
Gagal Bersemi
Seiring berjalannya waktu, aku pun bisa melupakan semua masa
laluku yang penuh goresan luka. Masa-masa di bangku perkuliahan kini telah
usai. Banyak kenangan manis dan pahit yang kurasakan. Kehidupan ku tetap dan
terus berjalan. Mengingat kembali masa laluku sungguh buat ku terpaku dan diam
merenung dalam ke dalam jiwa. Masa
jahiliyah, iya mungkin kata tersebut bisa disandangkan di waktu itu. Masa yang
penuh kubangan dosa. Semester satu perkuliahan, saya belum menggunakan hijab.
Semester kedua perkuliahan alhamdulillah
sudah berangsur menggunakan jilbab tetapi si virus merah jambu tetap masih
hinggap di hati. Hingga sulit bagi ku untuk menepisnya dan terbuai dalam cinta.
Awal permulaan menggunakan jilbab, iman ku mulai sedikit naik dan berusaha
tetap istiqomah dalam memperbaiki diri. Tapi ujian kecil menghampiri, seseorang
yang ku kenal melalui jejaring sosial facebook masuk dalam kehidupanku. Selidik
demi selidik, ternyata dia adalah kakak kelasku di kampus.
Mulai semenjak itu kami berkenalan dan mulai menjalin hubungan
yang dekat. Dia menyatakan perasaannya, entah apa yang membuat hati ini
langsung bisa membuka pintu hati untuknya. Begitulah nafsu duniawi merasuki
hati. Iman pun kembali surut. Dengan alasan cinta, kami mulai merancang
kehidupan masa depan. Cara yang salah untuk mendapatkan pasangan hidup ini,
Allah tunjukkan perilakunya yang tak pantas menjadi imam dalam rumah tangga. Hanya
perkenalan ia dengan seorang wanita, hubungan kami pun kandas di tengah jalan.
Dan semenjak itu, aku pun tak ingin lagi mengenalinya. Sibuk dengan dunia ku,
beberapa kali pernah menjalin pacaran dengan sosok pria yang ku pikir akan
menjadi sosok imam yang baik dalam rumah tangga. Namun hati kembali tergores
luka. Ya sudah lah, aku pun tak ingin lagi mengenal cinta. Perkuliahan ku pun
selesai tepat waktu. Ternyata sosok yang pernah meninggalkan sosok luka di hati
ini, wisuda bersamaan dengan ku. Setelah hampir 2 tahun kami loss contact, luka di hati kini kembali
membaik walaupun masih meninggalkan luka. Kami masih bertegur sapa walaupun cuma
sekedar say hallo dan saling
menanyakan kabar. Walaupun tidak seakrab yang dulu, sesekali dia sms menanyakan
kabar. Tapi itu pun dalam intensitas yang relatif jarang.
Suatu pagi Hp ku berdering, ku lihat nomor tanpa nama menelpon ku.
Iya ku tahu dengan nomor itu. Karena sambil mencuci piring, jadi Hpnya ku
matikan. Tak lama kemudian berbunyi lagi. Ku angkat teleponnya dengan sedikit
terpaksa, dari percakapan yang agak terburu-buru, laki-laki yang pernah membuat
ku jatuh cinta tersebut mengajak ku untuk reunian dengan teman kuliahnya dulu. Mendesak
dan memasakku untuk ikut, tetapi aku tetap dengan jawabanku tak mau ikut. Tapi
ajakannya yang begitu memohon membuat ku terpaksa meminta izin ke kakakku. Dan
aku pun dikasih izin dengannya. Dengan nada gembira, ia akan menjemputku
segera. Setelah pamitan dan minta izin dengan keluargaku, kami pun segera
menyusul teman-temannya untuk berlibur ke air terjun “Sadap”. Sepanjang perjalanan kami tak banyak cerita, masih kaku
setelah beberapa tahun tak lagi bersama.
Dengan guyonannya yang masih seperti dulu, kini mencairkan suasana. Kami
pun kembali akrab bak masih pacaran dulu. Ntah apa yang membuat ku merasa tidak
nyaman, Iya..ku merasa bersalah pada Allah dan menyesal karena tidak bisa
beristiqomah untuk menjaga jarak, bergoncengan dengan yang bukan mahromnya.
Allah ampuni dosa-dosaku. Ku hanya manusia biasa yang tak luput dari dosa dan
terus berusaha menjemput hidayah Mu.
Selasa, 15 April 2014
Malam Berkreasi
Malam
Berkreasi
Malam yang dipenuhi bintang
Namun ku hanya duduk termenung
Di sudut ruangan mungil
Di temani sebuah benda segi empat
Siap berhadapan dengan rautan wajahku
Iri melihat mata-mata indah mereka yang
terlelap
Tapi tidak dengan mata ini
Masih berkedip sambil bermain kata
Di sudut ruangan mungil
Ku salurkan rasa
Rasa yang begitu banyak warna kehidupan
Berkreasi dengan warna
Menciptakan keindahan ditengah kegemerlapan
Minggu, 13 April 2014
Ya Robb..
Hati ini ingin menjerit..
Mata ini ingin menangis...
Mungkin Kau tahu tentang semua itu..
Aku hanya ingin bermain kata-kata lewat tulisan ini..
Dan hanya lewat tulisan ini hati ku ingin berbagi..
Aku Lelah ya Robb..
Lelah dengan panggung kehidupan ini..
Panggung yang penuh
dengan sandiwara..
Panggung yang kebanyakan hanya mempriotaskan dunia..
Di panggung ini begitu banyak ujian yang Kau berikan...
Dan semua itu Kau biarkan aku memikulnya dengan hati yang
hampa..
Aku butuh teman hidup..
Teman berbagi suka
dan duka..
Teman yang menjadi tempatku bekeluh kesah...
Teman yang benar-benar mengerti aku..
Teman yang akan membahagiakan ku sampai ke surga Mu..
Di saat semuanya terasa begitu berat,
Kau uji aku dengan keluarga yang seperti ini..
Sikap adik-adikku yang siap menguji kesabaranku..
Aku pun hanya bisa diam, lewat doa ku butuh bantuan Mu ya
Robb..
Dan tak bisa ku bendungkan air mata ini mulai bercucuran..
Mungkin mereka menginginkan ku untuk terpisah dari keluarga
ini..
Karena mereka akan bahagia tanpa kehadiran ku..
Tapi kemana ku harus melangkah ya Robb..
Kini ku hanya berusaha tersenyum di balik rasa sakit ini..
Selasa, 25 Maret 2014
Penggangguran bukanlah sesuatu yang layak untuk direndahkan
Lewat tulisan ini ku lukiskan apa yang ku rasa, ku tak ingin apa yang ku rasa tertumpah dengan luapan emosi. Walaupun kadang begitu sakit yang ku rasa, tapi ku berusaha mengendalikan gejolak kecewa ini dengan senjata sabar. Buku-buku motivasi yang ku baca begitu banyak memberikan kontribusi dalam kehidupanku. Rasa sakit yang ku terima dari berbagai pihak membuat ku kuat dan kembali bangkit untuk membuktikan bahwa ku bisa lebih dari mereka. Status pengangguran yang ku sandang sekarang, seakan-akan dipandang sebelah mata oleh mereka yang mendapat pekerjaan yang cukup bagus. Masih ingat aku akan kata-kata yang dilontarkan oleh seseorang lewat chat di facebook, "dari kecil sampai sekarang sudah sarjana masa masih jadi beban orang tua?'' padahal waktu itu sudah aku jelaskan bahwa aku sudah berusaha melamar pekerjaan ke berbagai kantor, hanya saja belum ada panggilan. Lagian waktu ku tidak terbuang cuma-cuma oleh status pengangguran ku, aku masih bisa menghasilkan uang dari pekerjaan ku membantu kakakku mengelola usahanya dan aku juga bisa kerja sambilan seperti menjalankan bisnis onlineku. Tapi menurut ia itu bukanlah pekerjaan yang pantas untuk seorang sarjana. Ya memang itu lah yang ku rasa, rasa sakit yang membuatku berkeinginan kuat untuk bangkit. Padahal sambil membantu kakak menjalankan usahanya, secara tidak langsung aku belajar untuk berwirausaha. Apalagi cita-cita terbesar ku adalah menjadi pengusaha sukses dan Penulis, bukan karyawan yang hanya mengharapkan gaji setiap bulannya. Tetapi dimata mereka wirausaha bukanlah sebuah cara yang pantas untuk seorang sarjana mendapatkan uang. Tapi biarlah, tak jadi masalah untuk ku. Karena dalam hidup selalu ada pro dan kontra terhadap kehidupan kita. Semuanya kembali lagi ke cara kita menyikapinya.
Selasa, 18 Maret 2014
Kurangi Kenakalan Ciptakan Remaja Berprestasi
Akhir belakangan ini kenakalan di kalangan remaja cenderung semakin meningkat. Banyak kejadian-kejadian yang meresahkan masyarakat, seperti kasus pencurian, pemerkosaan, seks bebas, transaksi narkoba, sampai dengan pembunuhan. Nauzubillah min zalik, di masa yang seharusnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat malah yang terjadi adalah pelanggaran norma-norma. Semerbaknya fenomena kenakalan remaja saat ini, membuat kita sebagai masyarakat menjadi terusik. Perkembangan tekhnologi yang semakin pesat memudahkan semua kalangan masyarakat untuk mendapatkan informasi dari berbagai media. Begitu juga dengan kalangan remaja dapat dengan mudahnya mengakses informasi-informasi yang mereka perlukan. Tidak ada yang salah dengan kemajuan tekhnologi, banyak manfaat yang bisa kita ambil untuk dijadikan potensi dalam meningkat kualitas diri. Hanya saja informasi yang kita dapatkan perlu untuk kita filter. Kemajuan tekhnologi ini memberi pengaruh besar bagi para remaja. bila mereka tidak pandai menyaring informasi yang mereka dapatkan, banyak hal-hal negatif yang dapat menjerumuskan mereka dalam limbah kenestafaan.

Masa yang masih rentan dengan rasa ingin tahu yang begitu kuat, masa pencarian jati diri yang begitu besar sehingga rasa penasaran tersebut membuat mereka untuk selalu ingin mencoba tanpa berpikir akan akibatnya. Sesungguhnya masih banyak hal positif yang bisa dilakukan para remaja agar bisa berkontribusi untuk dirinya sendiri juga orang lain seperti ikut organisasi-organisasi di sekolah, ikut pengajian, berkreasi menciptakan sesuatu sehingga punya nilai jual dan sebagainya. Dalam hal ini perlu banyak elemen yang harus berperan untuk mengurangi fenomena kenakalan remaja, dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat dan pemerintah. Ada banyak faktor yang membuat seorang remaja terjerumus dalam hal negatif seperti keluarga yang broken home, kurangnya perhatian keluarga, ilmu agama yang kurang, salah dalam memilih teman serta mempunyai komunitas yang tidak baik. Untuk itu perlu adanya kerja sama dan partisipasi oleh semua pihak dalam menciptakan prilaku remaja yang positif dan produktif. karena Kemajuan suatu negara untuk beberapa tahun kedepan adalah tergantung remaja-remajanya saat ini.
Banyak remaja yang mengalami stres dalam hidup dan menjadikan kesenangan belaka sebagai pelarian. Dengan bujuk rayuan teman atau komunitas yang tidak baik untuk mencicipi kenikmatan sesaat seperti narkoba, mereka remaja yang lemah imannya akan dengan mudah terpengaruh dan terperangkap dalam dunia suram tersebut. Rasa tergiur yang begitu besar, membuat mereka berujung pada perbuatan kriminalitas seperti pencurian dan perampokan sampai dengan pembunuhan. Hal ini mereka lakukan tujuannya tak lain hanyalah untuk membayar sebuah kenikmatan yang begitu singkat. Alangkah begitu tragisnya kebanyakan remaja sekarang yang jauh dari iman. Lantas bagaimanakah dengan kemajuan negara ini beberapa tahun kedepannya jika remaja sekarang sudah mengalami keterpurukan ?
Dalam menanggulangi kenakalan remaja perlu ketekunan dan keuletan kita semua. Sekarang tugas kita terutama dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga adalah dengan cara memberi perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anak, menciptakan keluarga yang harmonis, menanamkan dasar-dasar agama yang kuat sejak dini dan membentuk mereka menjadi pribadi yang baik agar jauh dari prilaku negatif. Di masyarakat tugas kita yang dewasa bukan hanya diam dan terpukau dengan aksi-aksi kriminalitas yang mereka lakukan, tetapi tugas kita adalah menciptakan generasi muda yang berprestasi. Mendidik dengan cara yang terbaik serta menjadi figur yang pantas untuk mereka teladani. Disisi lain sekolah dan pemerintah juga berperan penting dalam meminimalisir kenakalan remaja dengan membentuk mereka menjadi pribadi yang berprestasi, bermoral dan beretika sehingga tidak diragukan lagi dalam menciptakan calon pemimpin yang penuh tanggung jawab dan berkualitas serta berani menegakkan integritas untuk beberapa tahun kedepan.
Masa yang masih rentan dengan rasa ingin tahu yang begitu kuat, masa pencarian jati diri yang begitu besar sehingga rasa penasaran tersebut membuat mereka untuk selalu ingin mencoba tanpa berpikir akan akibatnya. Sesungguhnya masih banyak hal positif yang bisa dilakukan para remaja agar bisa berkontribusi untuk dirinya sendiri juga orang lain seperti ikut organisasi-organisasi di sekolah, ikut pengajian, berkreasi menciptakan sesuatu sehingga punya nilai jual dan sebagainya. Dalam hal ini perlu banyak elemen yang harus berperan untuk mengurangi fenomena kenakalan remaja, dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat dan pemerintah. Ada banyak faktor yang membuat seorang remaja terjerumus dalam hal negatif seperti keluarga yang broken home, kurangnya perhatian keluarga, ilmu agama yang kurang, salah dalam memilih teman serta mempunyai komunitas yang tidak baik. Untuk itu perlu adanya kerja sama dan partisipasi oleh semua pihak dalam menciptakan prilaku remaja yang positif dan produktif. karena Kemajuan suatu negara untuk beberapa tahun kedepan adalah tergantung remaja-remajanya saat ini.
Banyak remaja yang mengalami stres dalam hidup dan menjadikan kesenangan belaka sebagai pelarian. Dengan bujuk rayuan teman atau komunitas yang tidak baik untuk mencicipi kenikmatan sesaat seperti narkoba, mereka remaja yang lemah imannya akan dengan mudah terpengaruh dan terperangkap dalam dunia suram tersebut. Rasa tergiur yang begitu besar, membuat mereka berujung pada perbuatan kriminalitas seperti pencurian dan perampokan sampai dengan pembunuhan. Hal ini mereka lakukan tujuannya tak lain hanyalah untuk membayar sebuah kenikmatan yang begitu singkat. Alangkah begitu tragisnya kebanyakan remaja sekarang yang jauh dari iman. Lantas bagaimanakah dengan kemajuan negara ini beberapa tahun kedepannya jika remaja sekarang sudah mengalami keterpurukan ?
Dalam menanggulangi kenakalan remaja perlu ketekunan dan keuletan kita semua. Sekarang tugas kita terutama dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga adalah dengan cara memberi perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anak, menciptakan keluarga yang harmonis, menanamkan dasar-dasar agama yang kuat sejak dini dan membentuk mereka menjadi pribadi yang baik agar jauh dari prilaku negatif. Di masyarakat tugas kita yang dewasa bukan hanya diam dan terpukau dengan aksi-aksi kriminalitas yang mereka lakukan, tetapi tugas kita adalah menciptakan generasi muda yang berprestasi. Mendidik dengan cara yang terbaik serta menjadi figur yang pantas untuk mereka teladani. Disisi lain sekolah dan pemerintah juga berperan penting dalam meminimalisir kenakalan remaja dengan membentuk mereka menjadi pribadi yang berprestasi, bermoral dan beretika sehingga tidak diragukan lagi dalam menciptakan calon pemimpin yang penuh tanggung jawab dan berkualitas serta berani menegakkan integritas untuk beberapa tahun kedepan.
Jumat, 07 Maret 2014
Visi bukan hanya mimpi
Aku tak tahu apa yang ku rasakan sekarang ini, aku cuma berharap apa yang sudah ku niatkan bisa berjalan dengan baik. Memang benar, sesuatu yang kita inginkan dan berharap mau jadi apa kita ke depannya, itu semua tergantung niat dan usaha kita sekarang. Aku pengen menjadi pribadi yang visioner, bukan hanya mimpi yang penuh khayalan tanpa tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Dan semuanya ingin ku mulai dari sekarang, berusaha membangun habits (kebiasaan) yang baik untuk mendukung apa yang ingin ku capai beberapa tahun ke depannya. Impianku untuk bisa menjadi ''Penulis" membuat ku harus bekerja keras membentuk pribadi yang visioner. Walaupun tidak bisa menjadi Penulis yang handal dan profesional, tapi setidaknya aku bisa menuangkan ide pemikiran ke dalam sebuah tulisan dan bermanfaat untuk orang lain. Dengan menjadi Penulis juga, kita bisa menjadi pendakwah lewat tulisan kita. Bukankah kita manusia hidup di muka bumi adalah seorang khalifah.
Memang benar membentuk habits baru selalu sulit dilakukan, tapi kesulitan itu hanya ada di awal. Misalnya aku berusaha membangun kebiasaan menulis dan membaca setiap harinya. Ketika aku memulai untuk melakukan kebiasaan tersebut mungkin terasa begitu berat untuk dilakukan pada hari pertama, kedua atau bahkan seminggu. Batas minimal untuk membangun habits yang baru itu adalah sebulan. Mungkin setelah sebulan kita akan melaksanakannya secara refleks dan otomatis dengan catatan tanpa satu hari pun terlewatkan untuk melaksanakan kebiasaan tersebut. Seperti isi bukunya ustadz Felix Y. Siauw yang menyebutkan ada dua faktor yang menentukan kita akan memiliki habits yaitu :
1. Practice (Latihan)
2. Repetition (Pengulangan)
Memang benar membentuk habits baru selalu sulit dilakukan, tapi kesulitan itu hanya ada di awal. Misalnya aku berusaha membangun kebiasaan menulis dan membaca setiap harinya. Ketika aku memulai untuk melakukan kebiasaan tersebut mungkin terasa begitu berat untuk dilakukan pada hari pertama, kedua atau bahkan seminggu. Batas minimal untuk membangun habits yang baru itu adalah sebulan. Mungkin setelah sebulan kita akan melaksanakannya secara refleks dan otomatis dengan catatan tanpa satu hari pun terlewatkan untuk melaksanakan kebiasaan tersebut. Seperti isi bukunya ustadz Felix Y. Siauw yang menyebutkan ada dua faktor yang menentukan kita akan memiliki habits yaitu :
1. Practice (Latihan)
2. Repetition (Pengulangan)
Langganan:
Postingan (Atom)