Selasa, 15 April 2014

Malam Berkreasi


Malam Berkreasi

Malam yang dipenuhi bintang
Namun ku hanya duduk termenung
Di sudut ruangan mungil
Di temani sebuah benda segi empat
Siap berhadapan dengan rautan wajahku

Iri melihat mata-mata indah mereka yang terlelap
Tapi tidak dengan mata ini
Masih berkedip sambil bermain kata

Di sudut ruangan mungil
Ku salurkan rasa
Rasa yang begitu banyak warna kehidupan
Berkreasi dengan warna
Menciptakan keindahan ditengah kegemerlapan






Minggu, 13 April 2014


Ya Robb..
Hati ini ingin menjerit..
Mata ini ingin menangis...
Mungkin Kau tahu tentang semua itu..
Aku hanya ingin bermain kata-kata lewat tulisan ini..
Dan hanya lewat tulisan ini hati ku ingin berbagi..

Aku Lelah ya Robb..
Lelah dengan panggung kehidupan ini..
 Panggung yang penuh dengan sandiwara..
Panggung yang kebanyakan hanya mempriotaskan dunia..
Di panggung ini begitu banyak ujian yang Kau berikan...
Dan semua itu Kau biarkan aku memikulnya dengan hati yang hampa..

Aku butuh teman hidup..
Teman  berbagi suka dan duka..
Teman yang menjadi tempatku bekeluh kesah...
Teman yang benar-benar mengerti aku..
Teman yang akan membahagiakan ku sampai ke surga Mu..

Di saat semuanya terasa begitu berat,
Kau uji aku dengan keluarga yang seperti ini..
Sikap adik-adikku yang siap menguji kesabaranku..
Aku pun hanya bisa diam, lewat doa ku butuh bantuan Mu ya Robb..
Dan tak bisa ku bendungkan air mata ini mulai bercucuran..

Mungkin mereka menginginkan ku untuk terpisah dari keluarga ini..
Karena mereka akan bahagia tanpa kehadiran ku..
Tapi kemana ku harus melangkah ya Robb..
Kini ku hanya berusaha tersenyum di balik rasa sakit ini..



Selasa, 25 Maret 2014

Penggangguran bukanlah sesuatu yang layak untuk direndahkan

Lewat tulisan ini ku lukiskan apa yang ku rasa, ku tak ingin apa yang ku rasa tertumpah dengan luapan emosi. Walaupun kadang begitu sakit yang ku rasa, tapi ku berusaha mengendalikan gejolak kecewa ini dengan senjata sabar. Buku-buku motivasi yang ku baca begitu banyak memberikan kontribusi dalam kehidupanku. Rasa sakit yang ku terima dari berbagai pihak membuat ku kuat dan kembali bangkit untuk membuktikan bahwa ku bisa lebih dari mereka. Status pengangguran yang ku sandang sekarang, seakan-akan dipandang sebelah mata oleh mereka yang mendapat pekerjaan yang cukup bagus. Masih ingat aku akan kata-kata yang dilontarkan oleh seseorang lewat chat di facebook, "dari kecil sampai sekarang sudah sarjana masa masih jadi beban orang tua?'' padahal waktu itu sudah aku jelaskan bahwa aku sudah berusaha melamar pekerjaan ke berbagai kantor, hanya saja belum ada panggilan. Lagian waktu ku tidak terbuang cuma-cuma oleh status pengangguran ku, aku masih bisa menghasilkan uang dari pekerjaan ku membantu kakakku mengelola usahanya dan aku juga bisa kerja sambilan seperti menjalankan bisnis onlineku. Tapi menurut ia itu bukanlah pekerjaan yang pantas untuk seorang sarjana. Ya memang itu lah yang ku rasa, rasa sakit yang membuatku berkeinginan kuat untuk bangkit. Padahal sambil membantu kakak menjalankan usahanya, secara tidak langsung aku belajar untuk berwirausaha. Apalagi cita-cita terbesar ku adalah menjadi pengusaha sukses dan Penulis, bukan karyawan yang hanya mengharapkan gaji setiap bulannya.  Tetapi dimata mereka wirausaha bukanlah sebuah cara yang pantas untuk seorang sarjana mendapatkan uang. Tapi biarlah, tak jadi masalah untuk ku. Karena dalam hidup selalu ada pro dan kontra terhadap kehidupan kita. Semuanya kembali lagi ke cara kita menyikapinya.


Selasa, 18 Maret 2014

Kurangi Kenakalan Ciptakan Remaja Berprestasi

Akhir belakangan ini kenakalan di kalangan remaja cenderung semakin meningkat. Banyak kejadian-kejadian yang meresahkan masyarakat, seperti kasus pencurian, pemerkosaan, seks bebas, transaksi narkoba, sampai dengan pembunuhan. Nauzubillah min zalik, di masa yang seharusnya diisi dengan hal-hal yang bermanfaat malah yang terjadi adalah pelanggaran norma-norma. Semerbaknya fenomena kenakalan remaja saat ini, membuat kita sebagai masyarakat menjadi terusik. Perkembangan tekhnologi yang semakin pesat memudahkan semua kalangan masyarakat untuk mendapatkan informasi dari berbagai media. Begitu juga dengan kalangan remaja dapat dengan mudahnya mengakses informasi-informasi yang mereka perlukan. Tidak ada yang salah dengan kemajuan tekhnologi, banyak manfaat yang bisa kita ambil untuk dijadikan potensi dalam meningkat kualitas diri. Hanya saja  informasi yang kita dapatkan perlu untuk kita filter. Kemajuan tekhnologi ini memberi pengaruh besar bagi para remaja. bila mereka tidak pandai menyaring informasi yang mereka dapatkan, banyak hal-hal negatif yang dapat menjerumuskan mereka dalam limbah kenestafaan.

Masa yang masih rentan dengan rasa ingin tahu yang begitu kuat, masa pencarian jati diri yang begitu besar sehingga rasa penasaran tersebut membuat mereka untuk selalu ingin mencoba tanpa berpikir akan akibatnya. Sesungguhnya masih banyak hal positif yang bisa dilakukan para remaja agar bisa berkontribusi untuk dirinya sendiri juga orang lain seperti ikut organisasi-organisasi di sekolah, ikut pengajian, berkreasi menciptakan sesuatu sehingga punya nilai jual dan sebagainya. Dalam hal ini perlu banyak elemen yang harus berperan untuk mengurangi fenomena kenakalan remaja, dimulai dari keluarga, sekolah, lingkungan masyarakat dan pemerintah.  Ada banyak faktor yang membuat seorang remaja terjerumus dalam hal negatif seperti keluarga yang broken home, kurangnya perhatian keluarga, ilmu agama yang kurang, salah dalam memilih teman serta mempunyai komunitas yang tidak baik. Untuk itu perlu adanya kerja sama dan partisipasi oleh semua pihak dalam menciptakan prilaku remaja yang positif dan produktif. karena Kemajuan suatu negara untuk beberapa tahun kedepan adalah tergantung remaja-remajanya saat ini.

Banyak remaja yang mengalami stres dalam hidup dan menjadikan kesenangan belaka sebagai pelarian. Dengan bujuk rayuan teman atau komunitas yang tidak baik untuk mencicipi kenikmatan sesaat seperti narkoba, mereka remaja yang lemah imannya akan dengan mudah terpengaruh dan terperangkap dalam dunia suram tersebut. Rasa tergiur yang begitu besar, membuat mereka berujung pada perbuatan kriminalitas seperti pencurian dan perampokan sampai dengan pembunuhan. Hal ini mereka lakukan tujuannya tak lain hanyalah untuk membayar sebuah kenikmatan yang begitu singkat. Alangkah begitu tragisnya kebanyakan remaja sekarang yang jauh dari iman. Lantas bagaimanakah dengan kemajuan negara ini beberapa tahun kedepannya jika remaja sekarang sudah mengalami keterpurukan ?

Dalam menanggulangi kenakalan remaja perlu ketekunan dan keuletan kita semua. Sekarang tugas kita terutama dari lingkup yang paling kecil yaitu keluarga adalah dengan cara memberi perhatian dan kasih sayang yang cukup kepada anak, menciptakan keluarga yang harmonis, menanamkan dasar-dasar agama yang kuat sejak dini dan membentuk mereka menjadi pribadi yang baik agar jauh dari prilaku negatif. Di masyarakat tugas kita yang dewasa bukan hanya diam dan terpukau dengan aksi-aksi kriminalitas yang mereka lakukan, tetapi tugas kita adalah menciptakan generasi muda yang berprestasi.  Mendidik dengan cara yang terbaik serta menjadi figur yang pantas untuk mereka teladani. Disisi lain sekolah dan pemerintah juga berperan penting dalam meminimalisir kenakalan remaja dengan membentuk mereka menjadi pribadi yang berprestasi, bermoral dan beretika sehingga tidak diragukan lagi dalam menciptakan calon pemimpin yang penuh tanggung jawab dan berkualitas serta berani menegakkan integritas untuk beberapa tahun kedepan.

Jumat, 07 Maret 2014

Visi bukan hanya mimpi

Aku tak tahu apa yang ku rasakan sekarang ini, aku cuma berharap apa yang sudah ku niatkan bisa berjalan dengan baik. Memang benar, sesuatu yang kita inginkan dan berharap mau jadi apa kita ke depannya, itu semua tergantung niat dan usaha kita sekarang. Aku pengen menjadi pribadi yang visioner, bukan hanya mimpi yang penuh khayalan tanpa tidak tahu apa yang harus dikerjakan. Dan semuanya ingin ku mulai dari sekarang, berusaha membangun habits (kebiasaan) yang baik untuk mendukung apa yang ingin ku capai beberapa tahun ke depannya. Impianku untuk bisa menjadi ''Penulis" membuat ku harus bekerja keras membentuk pribadi yang visioner. Walaupun tidak bisa menjadi Penulis yang handal dan profesional, tapi setidaknya aku bisa menuangkan ide pemikiran ke dalam sebuah tulisan dan bermanfaat untuk orang lain. Dengan menjadi Penulis juga, kita bisa menjadi pendakwah lewat tulisan kita. Bukankah kita manusia hidup di muka bumi adalah seorang khalifah.
Memang benar membentuk habits baru selalu sulit dilakukan, tapi kesulitan itu hanya ada di awal. Misalnya aku berusaha membangun kebiasaan menulis dan membaca setiap harinya. Ketika aku memulai untuk melakukan kebiasaan tersebut mungkin terasa begitu berat untuk dilakukan pada hari pertama, kedua atau bahkan seminggu. Batas minimal untuk membangun habits yang baru itu adalah sebulan. Mungkin setelah sebulan kita akan melaksanakannya secara refleks dan otomatis dengan catatan tanpa satu hari pun terlewatkan untuk melaksanakan kebiasaan tersebut. Seperti isi bukunya ustadz Felix Y. Siauw yang menyebutkan ada dua faktor yang menentukan kita akan memiliki habits yaitu :
1. Practice (Latihan)
2. Repetition (Pengulangan)



Kamis, 06 Maret 2014

Malu yang ku rasa

Assalamu'alaikum wr.wb
Pagi jum'at yang penuh berkah, alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menghirup udara-Nya sampai saat ini. Masih dengan aktivitas ku seperti biasanya, berhadapan dengan komputer, melayani pelanggan  dan membaca yang ku usahakan untuk menjadi sebuah habits.


Di saat sedang asyik membaca artikel di layar monitor, datang seorang pelanggan membeli pulsa. Seorang abang-abang, dengan peci putih yang ia kenakan. "Assalamu'alaikum", ucapan yang penuh doa menghentikan     sebentar aktivitas membaca ku. ''Wa'alaikumussalam", Sebuah jawaban yang ku keluarkan. "Pulsa ya, bang?" begitulah ku memulai percakapan. "Iya biasa, nomor yang kemarin masih ada kan ??"
HmM,,  "maaf bang udah lupa, karena di buku ini cuma menulis nomor dan transaksi aja tidak menulis nama." Begitu jawabku dengan rasa bersalah. "Owh, ya udah tulis lagi nomornya"
Selesai menulis dan mengirim pulsan, ku coba menanyakan namanya supaya nanti gak susah-susah lagi cari nomornya. Jawaban yang ku harapkan adalah sebuah nama, ternyata itu salah. "Gak usahlah namanya, bahaya tar dikasih nama" itulah jawaban yang keluar dari mulutnya. Aku pun berangguk-angguk sambil tersenyum.
Sembari menunggu uang kembalian, beliau melihat monitor komputerku yang masih online dengan facebook dan blog dan berkata "facebook itu bisa buat kita lalai lho, mending bawa sholat duha baca doa-doa yang bermanfaat". Dengan sedikit malu, aku menjawab "Iya bang, tu facebooknya cuma online aja, aku cuma baca artikel-artikel penting aja kok".  "Kadang dunia membuat kita lupa akan akhirat mending biasakan sholat duha aja minimal 2 rokaat", begitulah nasehat yang ku terima dari beliau. "Iya insya allah bang" jawabku. "Insya allah saja tidak cukup, terap dan laksanakan itu yang penting" kembali lagi ia mengingatkan ku. "Siipz deh" jawabku sambil tersenyum.

Ungkapan Hati

Cemburu dalam hati
Menangis dalam sepi
Tak lagi mendekati

Doa  tiada henti
Ikhtiar jauh dari benci
Semua dilakukan karena Illahi

Bukan sakit hati
Tapi harapan ingin segera menepi
Begitulah proses menanti

Jauh dari harapan pasti
Bukan bumerang untuk patah hati
Tapi senjata dalam pemantasan diri
Menjadi yang lebih berarti